Sistem Pemungutan Pajak - Baca Selengkapnya..!


Sistem Pemungutanpajak dapat dilakukan berdasarkan 3 stelsel, yaitu:

1. Stelsel nyata (riel stelsel)

Pengenaanpajak berdasarkan pada objek (penghasilan yang nyata) sehingga pemungutannya baru dapat dilakukan pada akhir tahun pajak, yakni setelah setelah penghasilan yang sesungguhnya diketahui. Kelebihan stelse ini ialah pajak yang dikenakan lebih realistis. sedangkan kelemahannya adalah pajak baru dapat dikenakan pada akgir periode (setelah penghasilan sudah diketahui).


2. Stelsel anggapan (fictieve stelsel)

Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang diatur oleh undang-undang. Misalnya, penghasilan suatu tahun di anggap sama dengan tahun sebelumnya, sehingga pada awal tahun pajak sudah dapat ditetapkan besarannya pajak yang tentang untuk tahun berjalan.  Kelebihan sistem ini adalah pajak dapat dibayar pada tahun berjalan adapun kelemahannya adalah pajak yang dibayar tidak berdasarkan yang sesungguhnya.

3. Stelsel campuran

Stelsel ini merupakan kombinasi antara stelsel nyata dan stelsel anggapan. Pada awal tahun, besarean pajak dihitung berdasarankan suatu anggapan., kemduian pada akhir tahun besaran pajak disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya. Bila besarnya pajak menurut kenyataan lebih besar daripada pajak menurut anggapan, maka wajib pajak harus menambah. Sebaliknya jika lebih kecil kelebihannya dapat diminta kembali.


1. Asas domisili (asas tempat tinggal)
Negara berhak mengenakan pajak atas seluruh penghasilan wajib pajak yang bertempat tinggal di wilayahnya, baik penghasilan yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri. Asas ini berlaku untuk wajib pajak dalam negeri.

2. Asas sumber
Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber di wilayahnya tanpa memerhatikan tempat tinggal wajib pajak.

3. Asas kebangsaan
Pengenaan pajak dihubungkan dengan kebangsaan suatu negara.


1. Official Assesment system
Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menetukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.
Ciri-cirinya:
  • Wewenang untuk mentukan besarnya pajak terutang ada pada wajib pajak sendiri
  •  Wajib pajak bersifat pasif
  •  Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus

2. Self Assesment System
Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada wajib pajak untuk menetukan sendiri besarnya pajak yang terutang.

Ciri-cirinya:
  • Wewenang untuk mentukan besarnya pajak terutang ada pada wajib pajak sendiri
  • Wajib pajak aktif, mulai dari menghitung, meneytor dan melaporkan sendiri pajak yang terutang
  • Fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi

3. Withholding system
Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan bukan wajib pajak yang beresangkutan) untuk memotong atau memungut pajak yang terutang oleh wajib pajak.

Ciri-cirinya:
Wewenang memotong atau memungut pajak yang terutang ada pada pihak ketiga, yaitu selain fiskus dan wajib pajak.

Sumber: Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Ak (2016:9-10)

Daftar pustaka: Mardiasmo. Perpajakan Edisi Terbaru 2016. Andi Yogyakarta, Yogyakarta, 2016.

0 Response to "Sistem Pemungutan Pajak - Baca Selengkapnya..!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel