Ciri Ciri Pecundang Yang Wajib Kamu Ketahui

Ciri-ciri pecundang ialah orang yang jika tersandung jatuh tidak mau berdiri kembali karena beberapa alasan, antara lain:

• Takut berdiri karena takut jatuh kembali
• Menyalahkan pihak lain yang membuat dirinya jatuh, apakah itu berupa orang lain, keadaan alam, nasib atau Tuhan
• Menyalahkan diri sendiri secara tidak proporsional, sehingga tidak berani mencoba lagi, karena setiap kali akan mencoba, teringat kepada peristiwa kejatuhan itu, dan memilih tidak mencoba sama sekali, agar tidak kecewa jika kelak jatuh kembali Dan bagi pecundang, adalah nyaris mustahil untuk meraih sukses, dalam karier ataupun bisnis.
Juga ada beberapa karakteristik orang yang sejenis dengan pecundang yang harus anda hindari jika ingin meraih sukses, antara lain:

• Bodoh
Defmisi bodoh adalah orang yang sekalipun telah diajar berulang kali namun tetap saja tidak bisa belajar dan memperbaiki diri, entah disebabkan karena kecerdasan yang rendah, atau daya konsentrasi yang lemah, atau kurangnya kemauan menyerap pelajaran.
Menurut saya, orang bodoh itu sulit ditolong dan dimanfaatkan kebergunaannya bagi perusahaan, karena kita tidak tahu apa yang menyebabkan ia bodoh seperti itu, dan kita bukanlah ahlinya serta tidak mempunyai cukup waktu untuk mengurus hal seperti itu, sehingga saran saya, sebaiknya karyawan atau pekerja yang bodoh dipekerjakan hanya dalam bidang yang sederhana dan tidak memerlukan pekerjaan pikiran, atau dipecat saja.

• Malas
Orang malas dan orang bodoh sama-sama tidak bisa sukses. Bahkan orang malas lebih buruk dibandingkan dengan orang bodoh, karena mereka bisa bekerja, namun tidak man melakukannya dengan baik. Mereka mencari kesempatan untuk mencuri waktu kerja dengan berleha-leha, mengobrol, atau sekadar melamun, sehingga produktivitas mereka rendah, dan tidak mampu memenuhi jadvval penyelesaian pekerjaan secara tepat waktu.
Jika perusahaan anda banyak orang malas, maka bisa saja anda salah mengestimasi produktivitas per karyawan sehingga mempekerjakan jumlah karyawan yang jauh lebih banyak dari yang sepatutnya. 

Sebagai contoh: Jika anda tidak tahu bahwa mayoritas pekerja anda adalah malas, sehingga ketika anda mengamati bahwa seorang pekerja atau karyawan rata-rata produktivitasnya adalah 10Y, sedangkan anda mempunyai target hasil sebesar 100Y, maka anda akan merekrut 10 pekerja agar target tercapai. Padahal, jika pekerjaan itu dilakukan secara optimal dengan cara yang tepat manfaat, maka setiap pekerja bisa menghasilkan 20Y, 30Y, bahkan ada yang bisa 40Y.

Menurut survei yang diadakan oleh beberapa asosiasi pengusaha kita ketika studi banding ke Cina, ditemukan bahwa produktivitas pekerja Cina bisa 4x lebih banyak dibandingkan dengan pekerja kita untuk jenis pekerjaan yang sama. Untuk jenis pekerjaan fisik seperti itu tentulah tidak dipengaruhi oleh faktor kecerdasan, melainkan faktor kecepatan, yang tidak mau dilakukan oleh pemalas. Kata mereka, “Kalau
boleh lamban. kenapa barm cepat?”

• Tidak kompeten
Kompetensi ialah kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan dengan hasil baik dan benar, yang diperoleh dari proses belajar maupun pengalaman. Karyawan yang tidak kompeten sukar naik jabatan dengan kemampuan sendiri, karena tidak ada prestasi yang memberikannya nilai tambah untuk promosi.

Jika ada manajer yang tidak kompeten di bidangnya, bisa saja terjadi karena ‘the right man on the wrong place’, seperti misalnya salesman yang sukses ketika diangkat menjadi sales manajer menjadi kusut kinerjanya. Atau orang yang belum mempunyai pengalaman kerja cukup, serta tidak mempunyai latar belakang pendidikan dan pengetahuan formal memadai, namun karena faktor kedekatan hubungan, diangkat menjadi manajer atau direktur perusahaan, hasil akhirnya sudah bisa diduga, buruk.

• Tidak mempunyai enthusiasme
Ketiadaan enthusiasme bisa disebabkan karena seseorang tidak menyukai bidang pekerjaannya ataupun lingkungan kerjanya, sehingga bekerja merupakan kewajiban, keterpaksaan, dan pengorbanan. Harapan mereka ketika bekerja ialah agar jarum jam segera berputar cepat dari pukul 8 menjadi pukul 5, dan hari Senin segera berganti menjadi hari Jumat, agar mereka segera libur dan melepaskan ketegangan.
Dan minggu yang paling dinantikan oleh mereka ialah minggu terakhir pada setiap bulannya, yaitu saat mereka menerima gaji. Ungkapan yang sering diucapkan oleh karyawan yang tidak mempunyai enthusiasme ialah, jika hari Jumat, “Thanks God, it’s Friday!”, dan jika hari Senin, “0 Ghost, it’s Monday
again!”
• Tidak mempunyai inisiatif
Karyawan yang berinisiatif itu barang langka. Biasanya karyawan bekerja seperti jam dinding, berputar secara otomatis jika masih ada baterainya. Mereka seolah tidak peduli terhadap keadaan perusahaan secara keseluruhan. Bagi mereka, yang penting pekerjaannya selesai, dan setiap bulan mendapat gaji, cukup. Soal
apakah perusahaannya boros, tidak efisien, rugi atau untung, itu bukan urusan mereka.
Saya pribadi belum begitu memahami, mengapa banyak karyawan berperilaku seperti itu, apakah mereka tidak mau berinisiatif, ataukah mereka tidak mampu berinisiatif? Atau bahkan mereka tidak boleh berinisiatif oleh aturan perusahaan, karena mengkhawatirkan pelanggaran tata tertib oleh orang yang berinisiatif
sendiri-sendiri?

Apa pun juga sebabnya, ketiadaan inisiatif akan merugikan karyawan dan perusahaan, karena tidak ada perilaku dan budaya melakukan perbaikan dan inovasi berkesinambungan.

• Tidak memiliki ‘sense of belonging’
Jika karyawan tidak mempunyai rasa memiliki perusahaan, mereka tidak akan peduli terhadap perilaku diri sendiri atau karyawan lain yang merugikan perusahaan. Di dalam perusahaan akan terjadi dualisme, “Kami dan Kalian, atau Kita dan Mereka, atau Karyawan dan Pengusaha!”

Untuk membangun ‘sense of belonging karyawan, saya mengajar dengan memberikan perumpamaan bahwa perusahaan .ibarat kapal, dan karyawan sebagai awak kapalnya. Ketika kapal sedang berlayar di tengah samudra, ada pelaut yang sedang berdiri di atas geladak kapal dengan santai sambil melihat burung-burung camar yang beterbangan di sekitarnya. 

Tiba-tiba muncul awak mesin yang berteriak kepadanya, “Hai pelaut, cepat bantu saya, kapal kita bocor!”, sambil tetap bersikap santai, si pelaut menyahut, “Jangan teriakteriak, itu bukan urusan saya, bukan job description saya!”, dan si awak mesin berteriak lagi, “Cepat bantu memperbaikinya, atau kapal kita tengge/am!”, dan sambil masih bersandar pada badan kapal, si pelaut menyahut tak acuh, “So, what? That’s not my business! Ini bukan kapal saya!”

Sekalipun cerita di atas hanyalah analogi, namun dalam aplikasinya banyak sekali karyawan yang mempunyai sikap mental dan perilaku seperti pelaut dalam ilustrasi di atas. Mereka tidak peduli terhadap ‘nasib’ perusahaan, karena bagi mereka, motivasi dan tujuan mereka bekerja hanyalah mencari nafkah, dan mewujudkan impian pribadi, titik! Bagi kebanyakan karyawan, urusan kinerja koleganya, apalagi urusan kinerja perusahaan secara keseluruhan, bukanlah urusan mereka. Mereka tidak peduli apakah orang lain bekerja baik atau buruk, efisien atau boros, benar atau salah; asalkan mereka sudah melaksanakan kewajiban dan uraian tugas dengan benar, serta menerima gaji mereka secara rutin, sudah,
cukup, titik!

Saudaraku, jangan ikuti kebiasaan orang-orang seperti itu. Mereka adalah orang marginal, orang yang berpikiran dan berwawasan sempit, yang saya yakin sampai masa pensiun mereka kelak tidak akan pernah meraih sukses karier yang membanggakan, karena mereka melupakan azas manfaat, give and take.

Bagi anda kandidat sukses, anda harus dan perlu menerapkan ‘sense of belonging dalam bekerja. Anda harus menganggap bahwa perusahaan tempat anda bekerja adalah juga milik anda, yang kinerjanya juga terpengaruh oleh kinerja anda dan karyawan lainnya.

Anda harus committed untuk memberikan 100% sumber daya anda untuk kemajuan perusahaan. Anda harus bekerja dengan antusias, membuka mata-telinga, hati dan pikiran anda untuk mengamati dan mencerna apa saja yang sedang terjadi di dalam perusahaan anda. Apa saja, di mana saja, dan siapa saja yang tidak bekerja dan memberi manfaat secara benar dan optimal, dan apakah yang bisa anda perbuat untuk mengatasinya? Jika dalam otoritas anda untuk mengubahnya, maka ubahlah segera! Jika bukan, maka buatlah usulan konkret tertulisnya untuk mengatasi inefisiensi atau kendala internal itu dan laporkanlah kepada atasan anda yang berwewenang untuk mengatasinya.

Itulah ciri-ciri kandidat sukses, yang bekerja secara dinamis dan proaktif; dan bukan bekerja seperti robot, monoton, rutin, dan tidak bisa melakukan hal selain yang diprogramkan.

• Narrow-minded
Terjemahan bebasnya ialah picik, atau cupet pikiran. Ciri-cirinya ialah orang yang terlalu perhitungan, mudah tersmggung, dan tidak bisa menerima kritik. Mereka itu tidak mungkin mau melakukan tugas ekstra tanpa dijanjikan mendapat pembayaran ekstra, atau seperti yang dikatakan oleh Bapak Sutedja Sidarta (dirut PT. Apollo Agung Chemical Industry), adalah karyawan dengan ‘mental pocokan’, atau mental kuli panggul.

Kalau kuli panggul meminta bayaran sesuai dengan barang yang dipanggulnya adalah lumrah, karena mereka tidak mendapat gaji, tunjangan dan fasilitas apa pun selain upah per pekerjaan; berbeda dengan karyawan yang mendapat gaji dan fasilitas tetap, yang merupakan bagian terintegrasi dari perusahaan.
Jika mereka tetap menerapkan ‘mental pocokan’, maka sudah dapat dipastikan, mereka tidak akan pernah menjadi ‘orang besar’ di dalam perusahaan.

• Curang dan jahat
Sebenarnya tidak perlu lagi saya berikan alasan bahwa karyawan yang curang dan jahat hampir mustahil bisa sukses karier. Curang di sini adalah melakukan manipulasi yang merugikan perusahaan, apakah dengan cara korupsi waktu kerja produktif untuk mengurus keperluan pribadi, atau bermalas-malasan, dan sejenisnya. Atau yang melakukan kecurangan finansial, dengan korupsi uang milik perusahaan, mencuri aset perusahaan (alat tulis kantor, dsb), menerima suap atau uang komisi dari pemasok, atau mencatut harga pembelian barang dengan menuliskan angka pembelian yang lebih besar dalam kuitansi pembelian, dan sebagainya.

Tindakan jahat di luar kecurangan adalah karyawan yang mudah diprovokasi (dan bahkan memprovokasi karyawan lain) untuk melawan dan memboikot aktivitas perusahaan dengan mogok kerja misalnya, dan bahkan sampai merusak aset perusahaan, hanya untuk urusan sepele yang bisa dirundingkan baik-baik.

Karyawan jahat seperti di atas tidak takut ditegur atau dipecat, karena mereka bisa memanfaatkan momentum itu untuk menghasut massa karyawan lain dengan cara fitnah dan tekanan isu sensitif dan eksplosif seperti SARA kepada pihak pengusaha.
Dengan adanya kebebasan berserikat, dan dengan adanya multi serikat pekerja di dalam perusahaan, hal itu bisa berisiko ditunggangi oleh oknum-oknum karyawan yang bermental negatif seperti di atas; sehingga tujuan yang awalnya baik dari serikat pekerja bisa mengakibatkan kericuhan usaha yang merugikan
karyawan dan pengusaha.

• Lemah fisik
Cukup jelas dan logis bahwa orang yang sakit-sakitan atau lemah fisik akan sulit menerima dan melaksanakan tanggung jawab pekerjaan yang besar dan berat. Sekalipun anda cerdas dan baik, namun jika kondisi fisik anda lemah, rasanya perusahaan sulit memberikan posisi penting kepada anda. Apa jadinya dengan operasional bisnis jika anda tidak bisa bekerja dengan jam kerja yang panjang, dan atau dengan tekanan yang berat, dan atau jika anda sering mangkir karena sakit?

Usahakanlah dan peliharalah kondisi kesehatan dan kekuatan fisik anda melalui pola hidup sehat, agar anda layak dan mampu mengemban tugas dan tanggung jawab yang besar, yang biasa mengikuti paket sukses karier dan bisnis.
source : Strategi sukses mengelola karir dan bisnis
pengarang : Johanes lim

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel